DAKWAH MUSA

Juli 12, 2007 at 8:47 pm (Akhlak, Akidah, Dakwah, Fiqh, Ghazwul Fikri, Hikmah, Renungan, Sejarah, Tafsir Al Quran)


Apa yang diminta oleh nabi Musa as, ketika dia diperintahkan untuk berdakwah kepada Firaun? Dalam bentuk apa pertolongan Allah kepada para dai di dunia?

Seseorang dapat memberikan sesuatu karena dia mempunyai sesuatu itu. Hal yang sama terjadi pada seorang dai; jika dia ingin memperbaiki kehidupan ke arah yang lebih islami, maka dia harus sudah terbiasa dengan kehidupan islmi itu. Kebiasaan hidup dengan nilai-nilai islami merupakan salah satu bekal yang harus dimiliki oleh seorang dai, selain itu masih ada bekal-bekal lain yang harus disiapkan untuk menjadi dai.

Ketika Allah memerintahkan Musa as agar berdakwah kepada Fir’aun, Musa as meminta kepada Allah swt sebagaimana tersebut dalam surat Thaha/20: 24- 32,”Pergilah kepada Fir’aun,’Sesungguhnya dia melampaui batas’. Musa berkata (berdoa),’Hai Tuhanku, lapangkanlah bagiku dadaku, dan mudahkanlah bagiku pekerjaanku, dan bukakanlah ikatan dari lidahku, agar mereka memahami ucapanku dalam urusanku Jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, harun, saudaraku. Teguhkanlah dengan dia kekuatanku dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku ’. Apa yang diminta oleh Musa as di atas dapat merupakan bekal yang perlu dimiliki oleh dai dan dapat juga menjadi sesuatu yang diperoleh ketika proses dakwah sedang berlangsung.

Berdasar permintaan Musa as di atas, bisa kita lihat bahwa pertolongan Allah swt dapat berwujud:

Lapang Dada
Dalam perjalanan dakwah pasti akan menemui hambatan dan tantangan, kelapangan dada merupakan bekal penting bagi dai agar dalam menjalankan dakwah selalu dalam keadaan emosi yang stabil dan tidak kehilangan kendali diri. Ketika Rasulullah saw sempat lama tidak menerima wahyu, muncul ketidaknyamanan –kesempitan dada- pada Beliau, kemudian turunlah surat yang dapat melapangkan dada Beliau yaitu surat Ad Dhuha/93 dan Al Insyirah/94.

Kelapangan dada kita dalam berislam sudah merupakan sebuah karunia, apalagi jika kelapangan dada itu terjadi dalam aktivitas dakwah kita. Sebalik kesempitan (kesesakan) dada dalam berislam merupakan suatu mushibah, begitu juga jika terjadi kesesakan dada dalam aktivitas dakwah. Maka barangsiapa yang dikehendaki Allah memberi petunjuk kepadanya niscaya Dia melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki (Allah) menyesatkannya niscaya Dia jadikan dadanya sempit lagi sesak seolah-olah dia mendaki ke langit. Demikianlah Allah menjadikan kotoran atas orang-orang yang tidak beriman (Al An’am/6:125)

Uqdatul Lisan
Uqdatul lisan biasanya diartikan dengan gagab atau cadel, tetapi makna ini dapat diperluas dengan: ghibah, mengumpat, mencari kesalahan orang, dan bersikap tidak pantas dalam melakukan dakwah. Uqdatul lisan ini bisa menjauh ketika kita aktif dalam dakwah, karena kondisi akan mengarahkan kita untuk tidak masuk dalam kebiasaan ghibah dan sejenisnya.

Munculnya Penolong Dakwah
Dalam proses komunikasi, secara tidak langsung terjadi proses saling mempengaruhi. Artinya kita yang terpengaruh orang lain atau orang lain yang terpengaruh oleh kita. Munculnya penolong dakwah (rijaluddakwah) bisa karena proses komunikasi, dapat juga karena sesuatu yang diluar skenario rencana kita. Oleh sebab itu seorang dai tidak boleh berputus asa dengan posisi kesendirian dalam waktu tertentu, sebab rijaluddakwah itu akan datang mungkin dengan tiada terduga.

Jika kita melibatkan diri dalam dakwah, maka yakinlah bahwa pertolongan Allah pasti datang. Jika kita menjauh dari dakwah, maka akan datang orang lain yang terjun mengurusi dakwah ini. Apakah tidak sebaiknya kita memilih aktif dalam dunia dakwah? Karena apapun yang terjadi dakwah pasti berjalan!

1 Komentar

  1. joenus said,

    Jikalau ingin jadi da’i karena Allah, pasti akan di uji oleh Allah SWT untuk kebenarannya, harus siap untuk berkorban baik yang berupa : waktu, harta; dan diri hanya untuk Allah, dan percaya akan mendapatkan kemudahan-kemudahan dari Allah SWT. Para da’inya Allah akan mendapatkan surga Adden yang dibawahnya ada 4 sungai mengalir ( Air susu, madu kahmer dan biasa ), tergantung keiqlasannya sejauh mana berkorban untuk dijalan Allah SWT. Jangan mengharap menjadi Da’inya Allah akan menjadi hartawan dunia, jika seperti siap anda akan menderita, karena da’i seperti ini, sama dengan artis/aktor. coba kita lihat da’inya Rosullulah SAW, andaikata dahulu kala tidak ada pengorbanan para sahabat Nabi Allah untuk mendawai/mendatangi Nusantara dan menyampaikan kalimat-kalimat Allah SWT dan Sabda-Sabda Nabi Allah kepada kakek-kakek kita tempo duloe, kemungkinan besar penduduk negri ini/ kita masih banyak menyembah batu/berhala.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: